IMPERIALISME DUNIA BARAT KE DUNIA ISLAM

Kemunduran Tiga Kerajaan Besar Islam (1700-1800 M)
Awal kemunduran dunia Islam terjadi saat jatuhnya kota Baghdad (pusat kebudayaan, peradaban, dan ilmu pengetahuan) pada tahun 1258M oleh Bangsa Mongol, yang mengakhiri kekhalifahan Bani Abbasiyah. Wilayah kekuasaan Abbasiyah terpecah menjadi Negara-negara kecil yang independent. Akibatnya kekuatan umat Islam mengalami kemerosotan. Setelah tuntuhnya Bani Abbasiyah, wilayah Islam terbagi menjadi tiga kerajaan besar, yaitu: pertama, Kerajaan Turki Usmani (Afrika Utara, Jazirah Ara, Asia Barat, dan Eropa Timur); kedua, Kerajaan Safawi (Persia); dan ketiga, Kerajaan Mughal (India).Namun ketika tiga kerajaan besar Islam sedang mengalami kemunduran di abad ke-18M, Eropa Barat mengalami kemajuan pesat. Kerajaan Safawi hancur di abad ke-18M, Kerajaan Mughal hancur pada awal paro kedua abad ke-19M di tangan Inggris yang kemudian mengambil alih kekuasaan di ank benua India. Kemunduran kerajaan Usmani juga pada masa selanjutnya, di periode modern menyebabkan kekuatan-keuatn Eropa tanpa segan-segan menjajah dan menduduki daerah-daerah muslim yang dulunya berada di bawah kekuasaan Kerajaan usmani, terutama di Timur Tengah dan Afrika Utara. (Badri Yatim, 2004: 174) Baca lebih lanjut

LEASING DALAM PERSPEKTIF FIQIH

ImageI. PENDAHULUAN

Dewasa ini, menjadi wirausaha merupakan pilihan alternative bagi para pencari kerja dalam memenuhi tuntutan hidup. Usaha tersebut bisa diciptakan dalam bentuk industry rumah tangga (home industry), industry kecil menengah (mikro), maupun perusahaan dalam skala makro. Namun, minat menjadi wirausaha kerap kali terbentur dengan masalah modal pengadaan alat, sarana prasarana usaha yang terbilang tidak kecil ongkosnya.

Demikian pula sifat konsumtif yang merebak di kalangan masyarakat dalam memenuhi hajat hidupnya, membuat mereka menempuh beberapa jalan yang sebenarnya tidak diperkenankan oleh syara’, bahkan merugikan mereka di kemudian hari. Salah satu jalan tersebut adalah financial lease atau yang sering disebut leasing untuk mendapatkan modal usaha atau hanya sekedar memenuhi kebutuhan kerja (seperti membeli mobil, sepeda motor, dsb). Ketika mereka terjebak dalam situasi yang sulit, sehingga tidak bisa membayar uang cicilan, akhirnya barang/modal yang semula diharapkan memberi keuntungan malah raib diambil kembali oleh pihak bank/ perusahaan leasing.

Bank Syariah yang memiliki misi mewujudkan keadilan dan kesejahteraan ekonomi social, memiliki peran strategis dalam menanggapi permasalahan tersebut. Dengan berpedoman pada nilai-nilai Islam, Bank Syariah memberikan alternative terhadap praktik-praktik ekonomi yang dilarang oleh syariat, namun sudah menjadi budaya dan kebutuhan masyarakat. Salah satunya adalah alternative bank syariah terhadap transaksi leasing. Baca lebih lanjut

KONSTRUKSI EPISTEMOLOGI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)

ImageI. PENDAHULUAN

Pendidikan Islam seringkali dikesankan sebagai pendidikan yang tradisional dan konservatif. Hal itu wajar karena orang memandang bahwa kegiatan pendidikan Islam dihinggapi oleh lemahnya penggunaan metodologis pembelajaran yang cenderung tidak menarik perhatian dan memberdayakan. Jika problem tersebut tidak segera ditanggapi secara serius dan berkelanjutan, maka peran pendidikan Islam akan kehilangan daya tariknya.

Menurut pengamatan Amin Abdullah (1998), bahwa kebanyakan pendidikan Islam masih menggunakan pola konvensional-tradisional, tidak saja yang terjadi dilembaga pendidikan non formal seperti pondok pesantren dan madrasah diniyah, akan tetapi juga di sekolah Islam, madrasah dan perguruan tinggi. Oleh karena itu harus dicari terobosan baru dan inovasi yang relevan dengan zaman, sehingga isi dan metodologi pendidikan Islam menjadi aktual-kontekstual. Dengan demikian, pelaksanaan pendidikan Islam akan relevan dan sesuai dengan gerak perubahan dan tuntutan zaman.

Kajian epistemologis dalam wilayah keilmuan apapun tidak bisa dihindarkan dari mempersoalkan konstruksi cara berfikir dan mentalitas keilmuan. Sedang cara berfikir itu, dipengaruhi oleh gerak perubahan zaman yang melingkarinya serta corak tantangan kehidupan yang dihadapi oleh setiap generasi. Secara historis pendidikan Islam memiliki pengalaman dan budaya yang sebetulnya itu menjadi nilai berharga untuk menata kembali gerak dan dinamika pendidikan Islam yang berkualitas.

Konstruksi epistemologis yang bergerak inilah yang membutuhkan corak pemikiran dan mentalitas yang kreatif, inovatif–positif seperti yang diisyaratkan Fazlur Rahman. Sehingga secara aktif konstruktif akan selalu berupaya dan berusaha membangun kerangka metodologis baru, karena tidak puas dengan anomali-anomali yang melekat pada kerangka metodologis yang selama ini telah berjalan secara konvensional–tradisional. [1] Baca lebih lanjut