KITAB KUNING DAN PESANTREN MENJAWAB TANTANGAN GLOBALISASI

I. Pendahuluan

Indonesia merupakan salah satu negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, dan menjadikan Islam bukan hanya sebagai agama tetapi juga ideologi yang mempengaruhi segala orientasi, pola berfikir (paradigma), pola tingkah laku baik dalam bernegara dan bermasyarakat. Islam dalam hal ini adalah ajaran, ideologi dan sekaligus way of life juga menjadi tradisi yang mendarah daging. Perkembangan zaman dewasa ini menelurkan berbagai permasalahan baru sehingga membutuhkan legalitas hukum yang pasti dalam pandangan agama Islam. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat kita bisa menjalani hidup ini dengan penuh keyakinan dan harapan bisa mendapatkan sa’adatun fi ad-daraini.Pesantren adalah sebuah wahana pendidikan agama Islam, dan merupakan tempat dimana berkumpulnya para ulama dan para calon ulama (santri) sebagai penerus para nabi yang menyampaikan ajaran samawi. Mereka sering sekali dijadikan rujukan masyarakat dalam mengatasi permasalahan hidup agar mereka bisa mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Pada umumnya para ulama dan santri menjawab pelbagai permasalahan hidup dengan merujuk kepada kitab kuning.

Namun yang menjadi permasalahannya adalah apakah kitab kuning sudah cukup memberikan solusi dalam mengatasi permasalahan masyarakat? Terlebih-lebih pada zaman sekarang yang memilki tingkat permasalahan yang lebih kompleks. Banyak para pakar hukum Islam dari kalangan pesantren (kiyai dan santri) memahami kitab kuning secara tekstual dalam rangka menjawab permasalah yang ada. Sebagai buktinya dalam putusan forum bahsul masail kita sering mendengar keputusan mauquf (dipending). Karena permasalahannya tidak ditemukan dalam kitab kuning secara tekstual. Padahal kita tahu bahwa kitab kuning itu ditulis para ulama salaf dalam rangka menjawab permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat pada saat itu, yang memang memiliki setting sosial yang jelas berbeda dengan era globalisasi. [1]

II. Rumusan Masalah

Berdasarkan pendahuluan di atas, kami rumuskan tiga permasalahan yang akan dibahas pada makalah ini. Adapun rumusan masalah tersebut adalah:

1. Apa pengertian kitab kuning dalam dunia pesantren?

2. Bagaimana kedudukan kitab kuning dalam pendidikan pesantren?

3. Bagaimana relevansi kitab kuning terhadap problematika pendidikan di pesantren dewasa kini?
III. Pembahasan

Definisi kitab kuning Ada banyak nama sebagai sebutan lain dari kitab yang menjadi referensi wajib di pesantren ini Disebut “kitab kuning” karena memang kertas yang digunakan dalam kitab-kitab tersebut berwarna kuning. Maklum saja, istilah ini bertujuan untuk memudahkan orang dalam menyebut. Sebutan “kitab kuning” ini adalah khas Indonesia.

Ada juga yang menyebutnya, “kitab gundul”. Ini karena disandarkan pada kata per kata dalam kitab yang tidak berharokat, bahkan tidak ada tanda bacanya sama sekali, tak seperti layaknya kitab-kitab belakangan. Istilah “kitab kuno” juga sebutan lain kitab kuning. Sebutan ini mengemuka karena rentangan waktu yang begitu jauh sejak kemunculannya dibanding sekarang. Karena saking kunonya, model kitab dan gaya penulisannya kini tak lagi digunakan. Meski atas dasar rentang waktu yang begitu jauh, ada yang menyebutnya kitab klasik (al-kutub al-qadimah).

Secara umum, kitab kuning dipahami oleh beberapa kalangan sebagai kitab referensi keagamaan yang merupakan produk pemikiran para ulama pada masa lampau (al-salaf) yang ditulis dengan format khas pra-modern, sebelum abad ke-17-an M. Lebih rinci lagi, kitab kuning didefinisikan dengan tiga pengertian. Pertama, kitab yang ditulis oleh ulama-ulama asing, tetapi secara turun-temurun menjadi referensi yang dipedomani oleh para ulama Indonesia. Kedua, ditulis oleh ulama Indonesia sebagai karya tulis yang independen. Dan ketiga, ditulis ulama Indonesia sebagai komentar atau terjemahan atas kitab karya ulama asing.

Dalam tradisi intelektual Islam, khususnya di Timur Tengah, dikenal dua istilah untuk menyebut kategori karya-karya ilmiah berdasarkan kurun atau format penulisannya. Kategori pertama disebut kitab-kitab klasik (al-kutub al-qadimah), sedangkan kategori kedua disebut kitab-kitab Modern (al-kulub al-`ashriyah). Perbedaan yang pertama dari yang kedua dicirikan, antara lain, oleh cara penulisannya yang tidak mengenal pemberhentian, tanda baca (punctuation), dan kesan bahasanya yang berat, klasik,dan tanpa syakl (harakat). Apa yang disebut kitab kuning pada dasarnya mengacu pada kategori yang pertama, yakni kitab-kitab klasik (al-kutub al-qadimah).

Spesifikasi kitab kuning secara umum lerletak dalam formatnya (layout), yang terdiri dari dua bagian: matan (teks asal) dan syarah (komentar, teks penjelas atas matan). Dalam pembagian semacam ini, matan selalu diletakkan di bagian pinggir (margin) sebelah kanan maupun kiri, sementara syarah, karena penuturannya jauh lebih banyak dan panjang dibandingkan matan, diletakkan di bagian tengah setiap halaman kitab kuning.

Ciri khas lainnya terletak dalam penjilidannya yang tidak total, yakni tidak dijilid seperti buku. Ia hanya dilipat berdasarkan kelompok halaman (misalnya, setiap 20 halaman) yang secara teknis dikenal dengan istilah korasan. Jadi, dalam satu kitab kuning terdiri dari beberapa korasan yang memungkinkan salah satu atau beberapa korasan itu dibawa secara lerpisah. Biasanya, ketika berangkat ke majelis pengkajian (pengajian), santri hanya membawa korasan tertentu yang akan dipelajarinya bersama sang kiai. [2]

Kitab Kuning dan Pendidikan di Pesantren Pendidikan pesantren pendidikan indigenous nusantara. Satu sumber menyatakan institusi pendidikan ini telah ada pada mas Walisanga yang didirikan oleh Raden Rahmad pada abad 16 di daerah Gresik Jawa Timur. Kata pesantren berasal dari kata santri yang diberi awalan pe dan akhiran an yang menunjukan arti tempat. Kata santri itu sendiri merupakan gabungan dua suku kata yaitu sant (manusia baik) dan tra (suka menolong), sehingga kata pesantren dapat berarti tempat pendidikan untuk membina manusia menjadi menjadi orang baik. Pesantren yang awalnya tumbuh di tanah Jawa saat ini berkembang pula di luar Jawa. Di luar jawa sebenarnya pendidikan agama ada yang disebut dengan surau seperti di Sumatra Barat, dayah di Aceh dan langgar di Sumatera Selatan. Kini nama – nama itu telah menjadi trade mark disebut dengan pesantren. Dalam pandangan Zamakhsjari Dofier, Pendidikan pesantren memiliki empat ciri : yakni ada masjid, kyai, santri dan ada kitab kuning sebagai materi kajian di pesantren.

Sebenarnya, awal mula mengkaji agama dilakukan di rumah guru mengaji (ustad), ada pula belajar agama di Masjid. Pada mulanya di masjid inilah yang banyak dijadikan tempat belajar membaca Al- Qur’an dan belajar agama, tetapi lama – kelamaan masjid tidak cukup luas maka dibuatlah suatu tempat untuk belajar agama. Belajar agama kepada kiyai yang tersohor telah mengundang mereka tentang yang tinggal letaknya jauh dari kiyai, maka untuk itu dibuatlah tempat mereka menginap atau berdiam dalam jangka waktu tertentu. Dengan demikian tampaknya pendidikan agama mengalami dinamika dari masjid, ke tempat khusus untuk belajar agama yang kemudian disebut dengan pesantren.

Pendidikan pesantren dapat menjadi pendidikan unggul baik keilmuan maupun mentalitas dan moralitas santri. Karena di pesantren santrinya belajar mulai ba’da shubuh hingga jam sebelas malam, artinya mereka belajar paling tidak selama 16 jam. Sangat logis santri pesantren banyak ilmunya.Begitu pula mereka unggul dalam moralitas karena mereka senantiasa diberikan pelajaran ntuk berperilaku yang baik, baik didalam kelas maupun diluar kelas, contoh – contoh perilaku baik itu langsung diberikan oleh kyai atau ustadz pengganti kyai. Mungkin yang masih kering dalam pembelajaran psntren adalah sentuhan terhadap prakarsa atau lebih tepatnya kreatifitas santri. Pola pembelajaran yang kering dari dialogis atau terlarang melakukan kritik kepada kyai seniornya atau pola belajar yang monolotik tidak menumbuhkan kreatifitas santri. Padahal sifat Allah adalah Maha Pencipta, maka di diri manusia sifat itu terbentuk kreatifitas untuk mengembangkan ciptaan Allah di bumi.

Di pesantren, santri belajar membaca Al-Qur’an dengan tajwidnya. Juga mengkaji ilmu agama melalui guru atau kyai dan mereka memiliki rujukan melalui kitab kuning. Mulanya mereka belajar masalah aqidah, ibadah & muamalah kemudian ditambah dengan pelajaran – pelajaran seperti mantiq, balaghah, faraidl dan bidang lainnya.

Belajar kitab kuning dalam pesantren ini melalui tingkatan – tingkatannya, mulai tingkat awal kemudian sampai tingkat lanjutan sesuai dengan keberadaan lamanya mereka belajar di pondok itu. Cara mereka belajar menggunakan sorogan,yaitu santri perindividu belajar langsung ke kyai dengan cara mendengarkan bacaan dan pemahamannya, dan juga melalui cara bandongan, yaitu santri belajar secara kelompok dengan cara mencatat di sisi kitabnya atau memberi arti di bawah teks kitab tertentu. Juga dengan cara halaqah yakni santri belajar bersama, mendiskusikan suatu masalah untuk dipecahkan bersama – sama.

Belajar agama di pondok pesantren pada saat penjajahan digunakan pula oleh kyainya untuk menumbuhkan semangat guna melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dalam kajian mereka disampaikan ada dorongan dari agama untuk membela orang – orang tertindas, ada pula dorongan dari agama melalui ajaran jihad yakni berperang dengan musuh yang melakukan penjajahan di Nusantara.

Dalam perkembangannya, pesantren yang mengajarkan pelajaran kitab kuning mengalami pasang surut para santrinya, dan kemudian diperlukan penambahan sarana belajar maupun sarana tempat tempat tidur para santri. Maka, para pengelola pesantren mendirikan sekolah umum, mengadopsi model pendidikan umum, dengan menambah pendidikan agama di jam sore atau malam. Selain mendirikan sistem madrasah di pondok pesantren, mereka juga mendirikan perguruan tinggi agama, atau Ma’had Aly bahkan ada pula perguruan tinggi umum atau universitas. Ada pula pesantren yang menjadi tempat berdiam tetapi mereka belajar diluar tetapi pada malam hari mereka belajar kitab kuning di kyai pesantren itu.

Dari dinamikanya, pesantren dapat dikelompokan menjadi tiga tipe yaitu pesantren salafiyah yaitu pesantren yang memfokuskan dirinya belajar agama melalui kitab kuning. Ada pula pesantren disamping belajar kitab kuning tetapi siswanya belajar ilmu umum di sekolah formal seperti SLTP / SMU atau madrasah yang disebut dengan pesantren kombinasi. Ada pula pesantren yang hanya menekankan santrinya belajar ilmu agama dan umum adapun kitab kuning tidak dibebankan kepada santri yang disebut pesantren khalafiyah atau ‘Asyriyah. Dinamika pesantren terus berlanjut, bahwa ada pemilik atau pengasuh pesantren yang berfikir bahwa pesantren bukan saja tempat belajar ilmu tetapi juga dapat dijadikan sebagai tempat meningkatkan ketrampilan, apakah itu jahit menjahit, pertukangan dan seterusnya. Dari pengembangan potensi ini pesantren dapat pula memberikan pengalaman ini dapat digunakan untuk hidupnya setelah berada di tengah – tengah kehidupan di masyarakat, selain mereka menjadi pemimpin agama di masyarakat. [3]

Pesantren di era globalisasi

Pesantren, selain sebagai institusi pendidikan Islam tertua di Indonesia, juga mempunyai peranan penting dalam menjaga budaya lokal. Perhatian pesantren terhadap budaya lokal begitu kentara dari arsitekturnya yang mengadopsi budaya Jawa.

Pesantren tidak didesain ke Arab-araban, melainkan sarat dengan kearifan lokal, sehingga pesantren merupakan perwujudan sintesis yang menghadirkan watak budaya nusantara. Hal itu juga terlihat dari penamaan beberapa pesantren yang didasarkan pada lokasi keberadaan pesantren. Misalnya Pesantren Langitan, Denanyar, Tambak Beras, Tebu Ireng, Krapyak dan lain sebagainya. Selain itu kyai juga seringkali menganjurkan para santri untuk melakukan tradisi-tradisi “lelakon” nenek moyang. Misalnya “tirakat” dalam pengertian berpuasa sunnah atau menghindari makanan tertentu, seperti makanan yang berasal dari mahkluk bernyawa. Meskipun ajaran agama tidak pernah melarang makanan tertentu tersebut, namun pelaku “lelakon” ini sengaja menghindari agar lebih mudah menekan hawa nafsu. Karena ditengarai makanan tertentu tersebut terdapat kandungan yang dapat meningkatkan hawa nafsu.

Proses belajar dan mengajar di pesantren bukanlah sekedar “menguasai” ilmu-ilmu keagamaan, melainkan juga proses pembentukan pandangan hidup dan perilaku para santri itu nantinya setelah “kembali” dari pondok pesantren ke dalam kehidupan masyarakat, sebaliknya, para kyai adalah mereka yang telah memiliki “kesempurnaan pandangan” (washilun). Dalam pengertian tasawuf, masjid pesantren yang terletak di tengah-tengah antara keduanya merupakan tempat “pertempuran moral” berlangsung di antara santri yang akan diubah perilakunya oleh kyai.

Eksistensi pesantren di tengah pergulatan modernitas saat ini tetap signifikan. Pesantren yang secara historis mampu memerankan dirinya sebagai benteng pertahanan dari penjajahan, kini seharusnya dapat memerankan diri sebagai benteng pertahanan dari imperialisme budaya yang begitu kuat menghegemoni kehidupan masyarakat, khususnya di perkotaan. Pesantren tetap menjadi pelabuhan bagi generasi muda agar tidak terseret dalam arus modernisme yang menjebaknya dalam kehampaan spiritual. Keberadaan pesantren sampai saat ini membuktikan keberhasilannya menjawab tantangan zaman. Namun akselerasi modernitas yang begitu cepat menuntut pesantren untuk tanggap secara cepat pula, sehingga eksistensinya tetap relevan dan signifikan. Masa depan pesantren ditentukan oleh sejauhmana pesantren menformulasikan dirinya menjadi pesantren yang mampu menjawab tuntutan masa depan tanpa kehilangan jati dirinya. [4]

Meskipun pesantren telah menunjukkan prestasi gemilang dengan mengemukanya kalangan santri pada tingkat atas, namun, institusi pesantren harus mengambil langkah strategis dalam menghadapi tantangan globalisasi, pertama, investasi Sumber Daya Manusia (SDM) santri. Hal ini mutlak diperlukan. Santri yang akan hidup pada beberapa dekade mendatang, harus dipersiapkan dalam dua hal. Moral dan ilmu pengetahuan.

Sedangkan fungsi pesantren sebagai pelestari budaya adalah mempersiap santri yang berpegang teguh pada identitas budaya lokal, tidak terombang-ambing oleh budaya global, hal ini sesuai dengan kaidah “ al-muhafadhatu alal qadimish Shalih…”. Budaya lokal mutlak depertahankan demi menghindari krisis identitas di tengah global. Investasi SDM santri harus bervisi global, mengedapankan ilmu pengetahuan dan moral agama, serta mental pantang menyerah dan mengetahui identitas bangsa. Bukan intelektual yang tanpa moral serta krisis identitas. [5]

Ke depan, pesantren yang berjumlah lebih dari seribu ini agar mempersiapkan santrinya memasuki dunia global, para santri perlu di bekali bukan saja penguasaan ilmu melalui kitab kuning tetapi juga perlu diberikan ilmu umum seperti matematika dan pengetahuan alam dan keterampilan untuk bekal hidupnya di tengah masyarakat.

Pendidikan pesantren tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh global. Pendidikan pesantren merupakan penggunanya (user) masyarakat global. Oleh karena itu, pendidikannya harus menyesuaikan diri. Kitab kuning sebagai khazanah klasik disamping banyak memuat ilmu agama tetapi juga dapat digali ilmu umum seperti kedokteran, falsafah, ekonomi, astronomi yang menjadi karya kebanggaan umat islam seperti yang dilakukan oleh ibnu Sina, ibnu Rusd, dan lainnya di masa lalu, ini juga perlu dikaji di pesantren. Selain itu, untuk mempersiapkan pesantren ke depan diperlukan manajemen modern dalam pengelolaannya berlandaskan transparansi dan akuntabilitas.

Kontekstualisasi Kandungan Kitab Kuning di Era Global

Pada hakikatnya, usaha menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat telah terjadi sejak belum ada kitab kuning sampai kitab kuning mulai ada. perkembangan kitab kuning sampai sekarang lebih dikarenakan beberapa faktor; pertama, munculnya masyarakat muslim kosmopolitan yang membutuhkan pelayanan mulai akhir abad 1 H. Kedua, lahirnya ilmu-ilmu naqliyah & aqliyah secara spektakuler di dunia Islam. Ketiga, tersedianya fasilitas penulisan, terutama kertas. Keempat, banyaknya ulama dan cendekiawan Islam yang kompeten suka menulis dan membaca. Dan kelima sikap para penguasa yang cinta ilmu dan budaya.

Kemudian, mengapa kontekstualisasi kandungan kitab kuning menjadi penting? Pertama, adanya perubahan sistem sosial budaya. Kalau hal ini tidak diperhatikan maka masyarakat tidak akan lagi tertarik dengan pesantren. Kedua, terjadinya realitas kepentingan umat. Ketiga, adanya temuan baru dalam iptek. Dulu ulama berijma’ bahwa bumi ini tidak bergerak kecuali bila ada faktor lain. Kalau pemahaman ini tidak dikontekstualisasikan, maka kitab kuning tidak aka menarik untuk dipelajari. Keempat, adanya tantanga baru yang dihadapi umat. Maka, perlu ada kesepakatan baru para ulama tentang kedua hal terakhir tsb. Iqra dalam membaca kitab kuning bukan sekedar membaca secara fisik, melek huruf, akan tetapi iqra diterjemahkan memahami secara mendalam, research. [6]

IV. Simpulan Kitab kuning dipahami sebagai kitab referensi keagamaan yang merupakan produk pemikiran para ulama pada masa lampau (al-salaf) yang ditulis dengan format khas pra-modern, sebelum abad ke-17-an M. Lebih rinci lagi, kitab kuning didefinisikan dengan tiga pengertian. Pertama, kitab yang ditulis oleh ulama-ulama asing, tetapi secara turun-temurun menjadi referensi yang dipedomani oleh para ulama Indonesia. Kedua, ditulis oleh ulama Indonesia sebagai karya tulis yang independen. Dan ketiga, ditulis ulama Indonesia sebagai komentar atau terjemahan atas kitab karya ulama asing.

Kontekstualisasi kitab kuning dalam dunia pendidikan di pesantren menjadi penting karena beberapa sebab: Pertama, adanya perubahan sistem sosial budaya. Kedua, terjadinya realitas kepentingan umat. Ketiga, adanya temuan baru dalam iptek. Keempat, adanya tantanga baru yang dihadapi umat.

Daftar Pustaka

[1] Kontekstualisasi Kitab Kuning

[2] Definisi Kitab Kuning
[3] pendidikan pesantren di era globalisasi
[4] Peran Pesantren dalam Pelestarian Budaya dan Investasi Global
[5] Peran Pesantren dalam Pelestarian Budaya
[6] Kontekstualisasi Kitab Kuning di Era Global

Makalah karya Yayuk Susanti

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s