TA’LIM AL-MUTA’ALLIM DALAM BAYANGAN MODERNISASI PENDIDIKAN

A. Pendahuluan

”Budaya kitab kuning yang menguasai pesantren, ternyata bisa diterapkan ditengah-tengah kehidupan masyarakat modern ini”. Demikian dikatakan oleh Prof. Dr. KH. Tolchah Hasan, MA. Dia mengatakan bahwa bukan sekarang saja kontekstualisasi terjadi akan tetapi sejak belum ada kitab kuning sampai kitab kunig mulai ada, usaha menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat telah terjadi. Perkembangan kitab kuning sampai sekarang lebih dikarenakan beberapa faktor; pertama, munculnya masyarakat muslim kosmopolitan yang membutuhkan pelayanan mulai akhir abad 1 H. Kedua, lahirnya ilmu-ilmu naqliyah & aqliyah secara spektakuler di dunia Islam. Ketiga, tersedianya fasilitas penulisan, terutama kertas. Keempat, banyaknya ulama dan cendekiawan Islam yang kompeten suka menulis dan membaca. Dan kelima sikap para penguasa yang cinta ilmu dan budaya.Kemudian, mengapa kontekstualisasi kandungan kitab kuning menjadi penting? Pertama, adanya perubahan sistem sosial budaya. Kalau hal ini tidak diperhatikan maka masyarakat tidak akan lagi tertarik dengan pesantren. Kedua, terjadinya realitas kepentingan umat. Ketiga, adanya temuan baru dalam iptek. Dulu ulama berijma’ bahwa bumi ini tidak bergerak kecuali bila ada faktor lain. Kalau pemahaman ini tidak dikontekstualisasikan, maka kitab kuning tidak aka menarik untuk dipelajari. Keempat, adanya tantanga baru yang dihadapi umat. Maka, perlu ada kesepakatan baru para ulama tentang kedua hal terakhir tsb.[1]

Berangkat dari sebuah pemahaman akan pentingnya obyektifitas dalam memahami segala hal, kami ajak anda untuk menelaah kembali turats-turats kita yang selama ini telah kita pahami sebagai bagian dari doktrin agama yang harus selalu dipertahankan. Dan dengan melihat berbagai kelesuan yang saat ini tengah terjadi di dunia pesantren, kita coba untuk menelisik kembali beberapa hal yang kiranya telah menjadi penyebab terjadinya hal itu

Kita awali dengan mengamati isu besar, bahwa terjadinya kemunduran di kalangan pesantren khususnya pesantren salaf di sebabkan oleh telah mengakarnya ajaran-ajaran yang terdapat dalam buku “Ta’lîm al-Muta’allim”, apakah tuduhan ini berdasar ataukah tidak ? Mari kita kaji bersama.[2]

B. Riwayat Hidup Az-Zarnuji

Terlahir dengan nama Burhanuddin al-Zarnuji, sebagian menyebutkan bahwa namanya adalah Syeikh Ibrahim bin Isma’il Al Zarnuji. Jika dilihat dari nisbahnya, yaitu Az-Zarnuji, maka sebagian peneliti mengatakan bahwa ia berasal dari Zaradj, yakni suatu daerah yang kini dikenal dengan nama Afganistan. Adapula yang menyebutkan bahwa ia berasal dari daerah Ma Warâ’a al-Nahar (Transoxinia). Tidak diketahui secara pasti mengenai tanggal kelahiran meupun sejarah kehidupannya, namun ada dua pendapat yang menjelaskan tentang kematiannya, yakni Pertama, pendapat yang mengatakan beliau wafat pada tahun 591 H./1195 M. Sedangkan pendapat yang kedua mengatakan bahwa Az-Zarnuji wafat pada tahun 840 H./1243 M.

Karya Az-Zarnuji yang berjudul Ta’allim al-Muta’allim ditulis dengan bahasa Arab. Kemampuannya berbahasa Arab tidak bisa dijadikan alasan bahwa beliau keturunan Arab. Beberapa referensi telah penulis telaah dan tidak ditemukan bahwa az-Zarnurji adalah bangsa Arab, namun bisa jadi hal itu benar, sebab pada masa penyebaran agama Islam banyak orang Arab yang menyebarkan agama Islam ke berbagai negeri, kemudian bermukim di tempat di mana ia menyebarkan agama Islam.

Az-Zarnuji menuntut ilmu di Bukhara dan Samarkan, yaitu ibu kota yang menjadi pusat keilmuan, pengajaran dan lain-lainnya. masjid-masjid di kedua kota tersebut dijadikan sebagai lembaga pendidikan dan diasuh oleh beberapa guru besar seperti Burhanuddin Al-Marginani, Syamsuddin Abdil Wajdi Muhammad bin Muhammad bin Abdul Satar, selain itu banyak guru Az- Zarnuji yang pendapat-pendapat mereka banyak diangkat dalam karyanya Ta’allim al-Muta’allim hinga kini banyak dikaji ulang oleh orang-orang Islam di berbagai negara Islam termasuk Indonesia.

C. Kandungan Isi Kitab Ta’limul Muta’allim

Sebelum menginjak pada pembahasan lebih lanjut, alangkah baiknya kita pahami dahulu jalur yang mempengaruhi seseorang mendapatkan ilmu yang bermanfaat (nafi’ wal muntafi’ bih) Keberhasilan seseorang mendapat anugerah ilmu nafi’ dan muntafa’ bih adalah karena melibatkan tiga faktor yang sangat dominan, yaitu: Pertama, Fadhol dari Allah, karena memang diajar oleh-Nya (alladzi ‘allama bil qolam. ‘Allamal insaana maa lam ya’lam). Kedua, Belajar sungguh-sungguh, rajin mengaji dan mengkaji, tekun mengulang dan muthola’ah.. Ketiga, Menyadong pertularan (atau apa namanya) dari guru kalau mengacu sebuah pameo “atthob’u saroq” tabiat, watak, karakter itu mencuri, maka kedekatan seseorang dengan orang lain mengakibatkan penularan yang niscaya mengacu sunnah Allah, dia yang lemah akan tertulari yang lebih kuat. Murid akan tertulari dari sang guru.

Sistimatika Ta’limul Muta’alim

Kitab ini dibagi menjadi dua belas fasal, yaitu:

  1. Hakekat ilmu dan keutaman ilmu fiqih
  2. Melakukan niat tholabil ilmi (anniyah fi haalit ta’allumi)
  3. Selektif dalam memilih ilmu, guru dan teman
  4. Ta’dhim terhadap ilmu dan ahli ilmu.
  5. Sungguh-sungguh, konsisten dan cita-cita
  6. Memulai (starting) belajar, memperkirakan kemampuan dan tertib belajar
  7. Tawakkal
  8. Waktu produktif dalam tholabul ilmi
  9. Belas kasih dan mengharap kebaikan (an-nashihah)
  10. Istifadah (membuat catatan-catatan baik dalam tulisan maupun benak)
  11. Waro’ (menjaga makanan dan perbuatan yang dilarang untuk tidak disantap atau dilakukan)
  12. Apa saja yang membuat orang mudah menghafal dan yang mudah membuat orang gampang lupa dan yang terakhir adalah tentang amalan dan bacaan yang membuat pelakunya tercurahi rizqi Allah.[3]

D. Kritik terhadap Kitab Ta’limul Muta’allim dalam Konteks Pendidikan Modern

1. Mengenai Etika Santri

Kitab kecil, yang juga disebut Risalah (surat) ini, oleh pengarangnya dimaksudkan sebagai buku petunjuk tentang metode belajar bagi santri, seperti tersembul dari judulnya. Namun apabila dikaji isinya, metode belajar yang dimaksud sangat sedikit. Di antara 14 bab yang terdapat kitab ini (istilah kitabnya, fashl) hanya satu bab saja yang membahas metode belajar. Selebihnya membahas tentang keutamaan ilmu, motivasi belajar, memilih ilmu, guru, dan kawan, memuliakan ilmu dan ulama, dan lain-lain. Bahkan membahas hal-hal yang dianggap dapat mempercepat rizki, karena belajar tak pelak lagi memerlukan hal itu.

Karenanya, kitab ini cenderung lebih tepat disebut sebagai kitab yang membahas etika santri, khususnya kepada guru-gurunya, dibanding sebagai kitab tentang metode belajar. Dan agaknya, bagian inilah yang paling banyak mempunyai dampak. Di lingkungan pesantren, santri yang tidak sopan terhadap guru, ia akan segera dicap “tidak pernah mengaji kitab Ta’lim”, tetapi santri yang bodoh yang boleh jadi belum atau tidak mempraktekan isi kitab tersebut, cap itu tidak akan disandanganya. Dan karena pengarangnya seorang santrawan, maka petuah-petuah untuk itu juga banyak diambil dari syair-syair Arab.

Namun persoalaannya tidak berhenti sampai di situ, al-Jarnuji menyebut kitabnya sebagai metode belajar, sedangkan kajiannya banyak membahas etika. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah etika itu sendiri merupakan salah satu metode untuk meraih ilmu? Tampaknya di kalangan pesantren ada kecenderungan untuk menyebutkan bahwa etika santri, terutama kepada gurunya, merupakan salah satu perangkat untuk memperoleh ilmu. Kisah-kisah santri yang pada waktu nyantrinya menjadi khadam (pembantu) kyai, menjadi tukang ambil air, dan lain-lain, tiba-tiba setelah pulang muncul sebagai kyai yang alim, adalah cerita yang sangat populer di kalangan pesantren semata-mata karena keluhuran spiritual seorang kyai atau pendiri pesantren tersebut. Baginya masalah metode belajar tidak menjadi soal, yang penting setelah sekian lama menyantri kelak akan muncul sebagai kyai yang alim, berkat ‘barakah’ dari kyai tersebut.

Kecendungan ini masih sangat berpengaruh di masyarakat. Tak heran kalau tokoh pesantren seperti H.M. Yusuf Hasyim, Pengasuh Pesantren Tebuireng, membuat istilah adanya “lembaga Barakah” di pesantren, ketika santri belajar hanya semata-mata mengharapkan barakah dari kyai atau pendiri pesantren.

Adanya barakah sebenarnya tidak perlu dipersoalkan, sebab pengertian barakah adalah kebaikan atau manfaat yang berkembang. Dan dalam hal ini, hasil doa para kyai dan guru untuk para santrinya dapat disebut barakah. Hanya harapan santri untuk memperoleh barakah hendaknya tidak mengurangi usahanya dalam belajar secara lahiriah. Dengan demikian, santri dalam satu saat harus menyatukan antara usaha (ikhtiar) dan doa.

2. Menjadi Budak Guru?

Salah satu bagian dari petuah-petuah kitab ini —dan ini yang paling berpengaruh seperti dituturkan di muka— adalah keharusan seorang santri untuk menghormati gurunya, begitu pula orang-orang yang mempunyai pertalian darah dengannya, seperti puteranya dan lain-lain. Khusus untuk menghormati guru, al-Jarnuji menyitir ucapan Sayidina Ali, “ana ‘abdu man ‘allamani harfan, in sya`a ba’a, wa in sya`a a’taqa wa in sya’a istaqarra” (Saya adalah hamba orang yang pernah mengajarkan satu huruf kepada saya, apabila ia mau boleh menjualku, memerdekakanku, atau tetap memperbudakku). Al-Jarnuji juga menuturkan beberapa cara menghormati guru, antara lain santri tidak diperkenankan berjalan di hadapan guru, tidak diperkenankan duduk di tempat duduknya, tidak boleh mendahului berbicara tanpa izinnya, dsb. Walhasil, santri harus selalu mencari kerelaan gurunya (tidak menyakiti hatinya) dan mematuhi segala perintahnya, sepanjang hal itu bukan ma’siat.

Keterangan inilah, agaknya, yang menimbulkan persepsi penyerahan total seorang santri kepada gurunya. Apalagi bila diingat adanya bayang-bayang, ilmunya tidak akan bermanfaat apabila ia pernah berbeda pendapat (I’tiradh) dengan gurunya atau pernah menyakiti hatinya. Persepsi ini, meski mempunyai nilai positif, namun tak urung menimbulkan dampak yang kurang diinginkan. Sebab, santri harus bersikap menerima tanpa berani bersikap kritis.

Al-Jarnuji memang tidak memberikan rincian tentang masalah-masalah apa yang bisa menyakiti guru itu. Barang kali karena tidak adanya rincian ini menjadikan hal itu diberlakukan secara umum. Dan anehnya, meskipun hal itu hanya dibahas dalam rangka belajar, namun implementasinya justru tampak di luar itu. Persepsi ‘apa kata guru dan murid harus menerimanya’ sudah melembaga dalam kehidupan masyarakat secara luas. Keharusan memperoleh kerelaan guru nampak sangar relatif, apalagi bila hal itu dihubungkan dengan masalah interpretasi. Ternyata al-Jarnuji tidak menuturkan satu dalil pun petuahnya itu, selain ucapan Sayidina Ali serta sejumlah syair.

Dalam kaitannya dengan tradisi keilmuan, apabila kita tengok masa-masa jauh sebelum al-Jarnuji, misalnya periode imam-imam penegak madzhab, kita dapat memperoleh gambaran bahwa mereka tidak selamanya sependapat dengan gurunya. Bahkan, di antara mereka ada yang mendirikan madzhab sendiri, terpisah dari madzhab gurunya. Jauh sebelum itu, Umar ibn Khathab pernah juga diprotes oleh seorang wanita yang juga sebagai muridnya. Bila petuah al-Jarnuji di atas menjadi kriteria, sebenarnya gurulah yang sebenarnya elastis dalam mengkonotasikan kerelaannya. Sebab, boleh jadi seorang guru merasa tersinggung (tidak rela) apabila muridnya berbeda pendapat dengannya, sedangkan guru lain justru merasa bangga, bakan mendorong apabila muridnya berpendapat lain selama hal itu berdasarkan argumen yang kuat.[4]

3. Perlunya Analisa Sejarah

Satu hal yang sering dilakukan oleh Syeikh Zarnuji untuk memperkuat argumentasinya adalah dengan mengutip kisah-kisah yang di dalamnya terkandung mitos tanpa mengorek sedikitpun apa yang terjadi dibalik terjadinya hal itu, atau dalam bahasa lain terdapat kisah tersembunyi yang tidak berhasil diungkapkan oleh Syeikh Zarnuji. Sebab kisah pada suatu keadaan telah terbumbui oleh mitos yang tak bisa dipertanggungjawabkan. Karena itu sangatlah perlu kajian filsafat sejarah dalam menguraikan suatu kejadian yang sekiranya tidak masuk akal.

Seperti dalam kisah yang diceritakannya tentang dua orang pelajar yang belajar secara bersamaan, seorang berhasil sedangkan seorang lagi gagal, keberhasilah salah satunya di anggap sebagai barakah dari istiqamahnya menghadap kiblat saat belajar, tanpa menguraikan hal lain yang lebih logis dalam mengamati terjadinya keberhasilan si murid. Alasan-alasan tidak logis seperti ini banyak sekali terdapat dalam kitab ini, hal ini amat berbahaya karena bisa berimbas terbaliknya cara berpikir para pelajar, dengan lebih percaya kepada hal-hal yang berbau tahayyul daripada perkara yang logis, berakibat lebih menitikberatkan kepada suatu usaha maya daripada upaya nyata.

E. Pembelaan terhadap Relevansi Kitab Ta’limul Muta’allim dalam Konteks Pendidikan Kontemporer

KH. M. Khalil Bisri, selaku pengamat pendidikan islam dan pesantren mengemukakan pembelaannya terhadap relevansi kitab Ta’limul Muta’allim dalam hal mengembangkan pendidikan Islam dewasa ini. Dalam makalah seminarnya beliau mengemukakan argumennya yang penulis kutip di antaranya sebagai berikut.[5]

a. At-Ta’dhimTampilan ta’dhim yang beraneka bentuk itu tentu saja tidak boleh keluar dari batas —layak— wajar. Karena memang ta’dhim bagi tholib adalah kewajaran, sesuatu yang layak dilakukan terhadap yang ia merasa harus menta’dhimkannya. Dan merupakan garapan tholibul ilmi untuk mengartikulasikannya dalam ia memilih tampilan ta’dhim, dilakukannya dengan kesungguhan dan sepenuh hati. Tidak kemudian terperangkap kedalam bentuk yang sering kita dengar dengan sebutan mudahanah atau mujahalah belaka. Lamis dan menjilat, semu dan tak bermakna.

Untuk itu tholib harus pandai dan cermat menentukan pilihan ilmu apa yang paling baik yang harus dia cari. Sesuai dengan minat dan bakatnya. Bahkan ketika berguru pun dia tidak dibenarkan sembarangan dan asal-asalan. Pilihan yang ditentukan sendiri akan lebih mendorongnya kepada kesungguhan ta’dhim. Oleh Ta’lim Al-Muta’allim kesungguhan ta’dhimil ilmi dirupakan dengan tidak menjamah kitab yang berisi kandungan ilmu itu, kecuali dalam keadaan suci dari hadats. Sebelum dia muthola’ah, mengaji atau mengulang pelajaran, berwudhu lebih dahulu, tidak menaruh kitab sejajar, apalagi di bawah bokong, dan seterusnya.

Dalam hal tholib memilih guru, kalau ada, pilih yang mengumpulkan kealiman yang kealimannya dimasyhurkan sebagai handal (al a’lam) yang secara khuluqi, mengatur kehidupan keseharian sedemikian rupa sehingga tidak terkena imbas aib sosial, menjauhi kedurhakaan dan maksiat serta menjaga muru’ah (al-auro’) dan yang memiliki nilai lebih dalam kematangan ilmu dan amalnya serta lebih tua usianya daripada ulama (kiyai) lain (al-asann). Hal ini barangkali dimaksudkan agar tertancap pada diri tholib kemantapan berguru. Dengan demikian tanpa ragu-ragu lagi, tholib bersikap ta’dhim kental kepada gurunya itu. Oleh Ta’lim Al-Muta’allim dicontohkan dengan tidak ngomong kalau tidak didangu tidak bergeser tempat duduk sebelum sang guru beranjak dari tempatnya, tidak terlalu dekat dan tidak pula terlalu jauh dari guru, ketika didangu tidak berulah yang menyebabkan guru terganggu. Mematuhi segala perintahnya apapun bentuknya, dan seterusnya. Ta’dhim ini berlanjut kepada keluarga sang guru. Pendek kata tidak membuat guru “tertekan” secara moral ta’dhim kepada guru ini, dilakukan oleh tholib untuk mendapat perkenannya. Bukankah gurupun harus memberi dengan sifat kasih dan sepenuh hati pula? Bukankah pemberian itu wasilah untuk mendapatkan dan menghantarkannya kepada “raf’ad darojat”?

Oleh Ta’lim Al-Muta’allim guru disamakan dengan dokter (thobib). Kalau dia tidak dihormati, dia tidak akan memberi yang terbaik yang sangat dibutuhkan murid atau pasien itu, meskipun dia (pura-pura) memeriksanya dan menuliskan resep. Melengkapi hujjah Ta’lim Al-Muta’allim adalah sebuah ungkapan, yaitu: “Maa washola man washola illa bilhurmati wat ta’dhim, wa maa saqotho man saqotho illa bitarkilhurmati wat ta’dhim”.

b. Layaqoh Ma’hudahUntuk menyikapi ilmu, guru ataupun rekan seperti yang tersebut di atas, untuk menganggap sikap ta’dhim ala Ta’lim Al-Muta’allim berlebihan atau tidak, untuk mengatakan sikap-sikap Ta’lim Al-Muta’allim relevan atau tidak kaitannya dengan sistem pendidikan dewasa ini tergantung dimana sebenarnya seseorang (sebagai tholib) menempatkan dirinya dalam kedudukan dan peranan apa, menurut anggapan tholib, guru berpengaruh pada “pembentukan diri”. Seberapa besar guru memberi manfaat pada kehidupan tholib. Sampai sejauh mana jangkauan tholib mengapa dia melengkapi diri dengan ilmu itu.

Barangkali bisa saya katakan bahwa substansi pendidikan (yang bahasa kitabnya at-tarbiyah dari “madhi” robba yang maknanya ” memberangkatkan pagi-pagi” atau “memperkembangkan sejak mula”, sejak ditanam bagi tanaman dan sejak masa pertumbuhan bagi anak manusia) adalah menggarap jiwa anak manusia menurut fitrahnya adalalah bersih-bersih bagaikan kertas putih dia bisa ditulisi, dilukis, dicoret-coret atau diapakan saja bahkan disobek-sobek. Ditarbiyah dengan demikian bisa diusulkan untuk berarti: “tughda wa tunsau kama hiya makhluqotun bihi bighoiri taghyiri wa thawili majraha, dibiarkan berangkat dan beranjak tumbuh sesuai dengan fitrahnya tanpa harus dibiasakan dari alur yang semestinya dengan menuntun dan memberi contoh yang diinginkan serta memberi warna yang seindah-indahnya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh dia yng dididik. Sehingga tertanam pada dirinya haiah rosikhoh tashduru min halil af ‘aal.

Sasaran pendidikan dengan demikian adalah jiwa. Jiwa lebih peka terhadap rasa yang jelas tidak nyata. Kebesaran jiwa tidak nyemumuk seperti halnya kecahayaan ini tidak membinar. Namun kebesaran dan kecahayaan itu dapat dirasakan. Membentuk kebesaran dan kecahayaan itu bisa efektif bila dengan perangkat kedekatan rasa pula. Kedekatan rasa yang dijalin antara guru dan tholib dengan tali Allah dan tali rohmah ini akan menjalin keberhasilan amal tarbiyah. Tarbiyah yang diarahkan kepada ketaqwaan.

c. At-Talkhis Al-Mu’abbarBarangkali oleh karena Az-Zarnuji melihat kependidikan itu dengan kaca mata keteladanan, meskipun secara empiris dapat dibuktikan, maka yang tertuang terkesan berlebihan. Andaikata saya tidak khawatir disebut sebagai su’ul adab, saya akan mengatakan bahwa Ta’lim Al-Muta’allim adalah kerangka acuan hasil temuan atau rangkuman pengalaman ahlil ilmi dan belum disusus seperti layaknya konsep.

Namun secara kualitatif memiliki bobot yang efektif sebagai pedoman untuk menciptakan dunia pendidikan yang ideal yang masih sangat mungkin diterapkan kapan saja. Oleh karena itu, saya memberanikan diri untuk menganggap isi kitab Ta’lim Al-Muta’allim masih sangat relevan untuk diterapkan pada dunia pendidikan dewasa ini, sepanjang format belum berubah.

Tentang hubungan pendidik anak didik, guru murid, kiyai santri, pemberi manfaat penerima manfaat, dan seterusnya, adalah wajar dan memenuhi tuntunan ajaran serta tuntunan keorangan apabila terjalin tali keeratan yang terbuhul atas dasar filosofi sadar posisi bagi masing-masing. Dan itu harus dipertahankan kelanggegnannya agar pengawasan batini dapat dilakukan terus menerus. Kelanggengan hubungan antar dua kutub tersebut hanya dapat dicapai dengan keikhlasan yang putih.

F. Penutup

Penulis sepakat dengan pembelaan KH. M. Khalil Bisri dalam hal konsep yang ditawarkan Az-Zarnuji dalam hal penggemblengan etika siswa dalam batas-batas kewajaran. Alur yang dipilih Az-Zarnuji untuk mengalirkan gagasan beliau, penulis kira sudah memenuhi aspek muthobaqoh tadhomun maupun iltizam. Dan itulah hasil pendilalahan yang benar dari lafal: at-tarbiyah.

Pada kurun masa segala aspek tata kehidupan sudah bergeser seperati sekarang ini dan menjelang berlakunya era indrustrialisasi, saya kira konsep yang ada pada kandungan Ta’limul Muta’allim sebaiknya didukung untuk disosialisasikan dan dikembangkan secara adapatatif. Dengan melibatkan para pakar disiplin ilmu tertentu dan penambahan tata nilai. Sebab dapat saja penulis mengatakan: untuk membentuk generasi penerus yang terdidik lagi bertakwa kepada Allah SWT belum ada pedoman khususnya selain kitab Ta’limul Muta’alim.

DAFTAR PUSTAKA

Kru pondokpesantren.net. Sarasehan ”Memperkuat Kelembagaan MQK, Membangun Tradisi Keilmuan Pesantren” http://fk3stain.blogdetik.com/index.php/tag/kontekstualisasi-kitab-kuning-di-era-global/ dibuka pada Mei 2011

M.N. Ary B. Uraian Kritis terhadap Buku Ta’lim Muta’allim. http://arebuuud-artikel.blogspot.com/2008/06/uraian-kritis-terhadap-buku-talim-al.html/ dibuka pada Mei 2011

KH.M. Khalil Bisri. Konsep Pendidikan dalam Kitab “Ta’lim Muta’alim” dan Relevansinya dengan Dunia Pendidikan Dewasa ini. Makalah seminar di Pondok Pesantren Al-Hamidiyyah Jakarta. 1414 H

Redaksi at-Turat.com. Etika Santri Menurut Az-Zarnuji: Ta’lim al-Muta’allim fi Tariq at-Ta’allum. http://www.at-turats.com/. Dibuka pada Mei 2011

Endnote

_____________________________________________________________

[1] Kru pondokpesantren.net. Sarasehan ”Memperkuat Kelembagaan MQK, Membangun Tradisi Keilmuan Pesantren” http://fk3stain.blogdetik.com/index.php/tag/kontekstualisasi-kitab-kuning-di-era-global/ dibuka pada Mei 2011

[2] M.N. Ary B. Uraian Kritis terhadap Buku Ta’lim Muta’allim. http://arebuuud-artikel.blogspot.com/2008/06/uraian-kritis-terhadap-buku-talim-al.html/ dibuka pada Mei 2011

[3] KH.M. Khalil Bisri. Konsep Pendidikan dalam Kitab “Ta’lim Muta’alim” dan Relevansinya dengan Dunia Pendidikan Dewasa ini. Makalah seminar di Pondok Pesantren Al-Hamidiyyah Jakarta. 1414 H

[4] Redaksi at-Turat.com. Etika Santri Menurut Az-Zarnuji: Ta’lim al-Muta’allim fi Tariq at-Ta’allum. http://www.at-turats.com/. Dibuka pada Mei 2011

[5] KH.M. Khalil Bisri, Op. Cit.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s