MATE-MATI-KA: Menuju Kelas Neraka

Suara speaker menghentak nyaring menusuk kuping. Celaka dua belas, namaku disebut di tengah pengumuman itu. Dengan langkah berat, aku menuju sumber suara. Di mana lagi suara itu berasal kalo bukan dari ruangan ukuran 3×4 meter yang sunyi senyap di ujung gedung. Teman-teman menyebutnya penjara level dua, atau bagi mereka yang sedikit sopan menamainya ruang guru BP. Bersama tiga siswa lainnya, aku menyambangi Pak Ahmad, Sang Algojo Sekolah. Beliau menyebut kami, empat sekawan bermasalah.

“Masalahnya, kasus kalian cukup pelik.” tandas Pak Ahmad sambil menggulung koran. “Sudah banyak nama kalian tertera di buku saya. Dengan terpaksa, saya harus memanggil orang tua kalian untuk menjelaskan duduk perkaranya. Sanksi yang diberikan, tergantung hasil pertemuan besok.” lanjutnya, dengan sedikit menyunggingkan senyum. Lebih tepatnya seringai, menurutku. “Apanya yang pelik,” batinku. Toh kita cuma ketahuan merokok di belakang sekolah. Rokok gratisan pula, sisa hajatan. Itupun yang melihat siswi, entah dengan mata kepalanya atau dengan mata kakinya. Setahuku, ketika aku mau menyalakan korek, ada suara bisik-bisik di toilet wanita. Ala mak, ternyata dia yang mengintip dari ventilasi kemudian melapor ke guru BP. Sial, padahal seputung rokok pun belum aku hisap. Mungkin ini memang hari sialku.

Lima menit berlalu dengan ceramah yang begitu menusuk telinga, muncul sosok wanita masih muda. Masih seumuran kakak perempuanku. Dia memakai seragam PSH ala guru madrasah. Apakah dia guru baru? Rasanya baru pertama kali melihatnya. Dia menghampiri Pak Ahmad sambil membisikkan sesuatu. Tidak terdengar jelas apa yang dibicarakan, tetapi melihat raut wajah lelaki berkumis tipis itu mengurai ceria, aku merasa ada firasat baik. Wanita cantik itu sepertinya membelaku dan ketiga temanku. Belum sampai aku berbisik dengan teman di sampingku, pak Ahmad menyahut. “Kasus kalian sementara akan diambil alih oleh Wali Kelas kalian, untuk masalah pemanggilan wali murid, akan kami bicarakan nanti setelah Bu Anita menyelesaikan tugasnya.” Plong rasanya keluar dari suasana mencekam itu.

“Wali Kelasku?” rasa tanda tanya menyelonong di pikiranku. Perasaan kemarin masih dipegang sama ustadz Zakaria, -satu lagi guruku yang penuh misteri. Tidak pernah senyum dan tidak pernah menangis. Lebih tepatnya, pandai memanipulasi ekspresi atau -menurut sebagian ustadz yang lain-pandai me-manage qolbu. “Sekarang wali kelasku wanita berparas jelita itu? Kalo gini jadi lebih betah di kelas, hehe.” tawaku dalam hati. Sambil menjinjing tas birunya, Bu Anita –aku lebih suka memanggilnya Bu Nita- mengajak kami masuk kelas untuk mengikuti pelajaran. “Kalian berempat setelah jam saya selesai, tolong berkumpul di ruang perpustakaan.” Imbuhnya.

Aku bersama tiga kawanku mengucapkan terima kasih, langsung bergegas menuju kelas. Kelas neraka, begitu guru-guru kami lebih sering menyebutnya daripada nama aslinya, kelas IXB. Maklum, selain kami berempat, penghuni kelas mayoritas diisi anak-anak dengan karakter yang super. Ada yang super nyebelin, super jahil, super ember, super bandel, dan beberapa lainnya super diem. Aku masuk yang mana? Teman-teman kompak menyeru: “jamu komplit.” Meski kami penghuni kelas neraka, bukan berarti kami lemah IQ. Sebut saja si super ember Ita yang suka “tetet towet” kalo guru menerangkan itu jago bahasa Inggris. Hampir semua lagu Avril –penyanyi lagu barat- ia hafal dan fasih dia nyanyikan. Bahkan dia juga sering chatting dengan temannya di Perth, Australia, dengan bahasa Inggris tentunya. Belum lagi si super jahil Anton, dia pintar membuat trap untuk mengerjain teman lainnya, atau bahkan gurunya yang dianggap killer. Kata dia, semua jebakannya direncanakan secara sistematis dan diperhitungkan ketepatan baik waktu maupun ketepatan sasarannya, seperti kalau sedang melakukan eksperimen IPA. Masih banyak teman-teman yang memiliki bakat dan kelebihan masing-masing yang kadang guru kami lupa dan memandangnya sebelah mata.

Pintu kelas terbuka, sosok wanita cantik tadi muncul dan menyalami seluruh siswa. Sebenarnya beliau sudah dua kali masuk kelas neraka, namun ini kali pertama aku bertatap muka dengannya. Maklum, aku lebih sering keluar kelas karena membantu Bu Waka Sarpras mengurus laboratorium komputer madrasah.

“Anak-anak, buka buku kalian, halaman tujuh.” Seru Bu Nita dengan intonasi yang unik, tegas tapi merayu. Aku melirik buku yang dikeluarkan beliau. Ala mak, buku bersampul angka dan bangun ruang. “Matematika? Guru secantik itu mengajar pelajaran paling dibenci seantero kelas?” gumamku terkejut.

Pikiranku melayang membayangkan bagaimana suasana kelas ketika nanti angka demi angka di tulis, rumus demi rumus dirapal. Sepertinya kepala teman-temanku akan semakin bulat seperti angka nol. Kosong karena tidak paham. Tapi, bukan berarti mereka tidak cerdas. Yang pasti, guru matematikaku cantik sekali, dan sedikit mengurangi suasana angker yang selalu menyelimuti saat pelajaran itu berlangsung.

“Ra, Segera keluarkan bukumu, buka halaman tujuh!” Suara merdu itu menghampiri. Menyadarkan lamunku.

Aku, panggil saja Kara. Teman-teman memanggilku jamu komplit, menurut mereka aku yang paling lengkap nilainya –semua menjangkau KKM- di antara teman-teman yang lain. Bukan berarti aku cerdas, aku lebih suka menyebut diriku bejo, beruntung. Aku terlahir dengan membawa keberuntungan, termasuk ketika di kelas, aku beruntung selalu mendapat peringkat. Tapi sekali lagi, bukan berarti aku cerdas.

(bersambung)

KITAB KUNING DAN PESANTREN MENJAWAB TANTANGAN GLOBALISASI

I. Pendahuluan

Indonesia merupakan salah satu negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, dan menjadikan Islam bukan hanya sebagai agama tetapi juga ideologi yang mempengaruhi segala orientasi, pola berfikir (paradigma), pola tingkah laku baik dalam bernegara dan bermasyarakat. Islam dalam hal ini adalah ajaran, ideologi dan sekaligus way of life juga menjadi tradisi yang mendarah daging. Perkembangan zaman dewasa ini menelurkan berbagai permasalahan baru sehingga membutuhkan legalitas hukum yang pasti dalam pandangan agama Islam. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat kita bisa menjalani hidup ini dengan penuh keyakinan dan harapan bisa mendapatkan sa’adatun fi ad-daraini.Pesantren adalah sebuah wahana pendidikan agama Islam, dan merupakan tempat dimana berkumpulnya para ulama dan para calon ulama (santri) sebagai penerus para nabi yang menyampaikan ajaran samawi. Mereka sering sekali dijadikan rujukan masyarakat dalam mengatasi permasalahan hidup agar mereka bisa mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Pada umumnya para ulama dan santri menjawab pelbagai permasalahan hidup dengan merujuk kepada kitab kuning. Baca lebih lanjut

TIGA MODEL PENGUATAN (PENGUATAN KURIKULUM, PEMBELAJARAN DAN KELEMBAGAAN) DALAM PENDIDIKAN ISLAM

A. PENDAHULUAN

Ilmu pengetahuan Islam secara umum mengajarkan yang ma’ruf (amar ma’ruf) dan mencegah kemunkaran (nahi munkar) yang berdasar pada al-Qur’an dan as-Sunnah. Pendidikan Islam mengupayakan pendalaman iman dan ilmu, sebagaimana yang dipopulerkan M. Iqbal dengan keseimbangan dzikir dan pikir. Adanya dua unsur tersebut akan mampu merealisasikan ketenangan dan kemantapan jiwa anak serta memberikan landasan yang kuat bagi anak dalam menghadapi pasang surut kehidupannya kelak.
Pendidikan Islam memiliki watak progresif, berorientasi untuk maju dan semakin meningkatkan kualitas dalam kancah dunia edukasi. Pendidikan Islam yang diwakili oleh madrasah dan pesantren memiliki cara-cara spesifik dalam usaha penguatan jati dirinya, baik dalam lingkup kurikulum, pembelajaran, maupun kelembagaan. Tiga lingkup penguatan ini menarik untuk dikaji, sehubungan dengan citra madrasah dan pesantren semakin teralienasi akibat pengaruh arus globalisasi. Demikian pula dengan pendidikan agama Islam, sebagaimana yang telah kita ketahui telah banyak menyumbangkan saham dalam perbaikan dan peningkatan budi pekerti bangsa, baik secara formal maupun non formal seperti pengajian, majlis ta’lim, halaqah di masjid, dan di institusi keagamaan lainnya. Baca lebih lanjut

MAQASHID AS-SYARIAH DAN IMPLIKASINYA DALAM HUKUM ISLAM

 I. PENDAHULUAN
Suatu waktu Nabi Muhammad SAW melarang kaum muslimin menyimpan daging kurban kecuali dalam batas tertentu, sekedar bekal untuk tiga hari. Akan tetapi, beberapa tahun kemudian peraturan yang ditetapkan oleh Nabi Muhammad itu dilanggar oleh para sahabat. Permasalahan itu disampaikan kepada Nabi Muhammad. Beliau membenarkan tindakan para sahabat itu sambil menerangkan bahwa larangan menyimpan daging kurban adalah didasarkan atas kepentingan Al Daffah (tamu yang terdiri dari orang-orang miskin yang datang dari perkampungan sekitar Madinah). Setelah itu, Nabi Muhammad bersabda, “Sekarang simpanlah daging-daging kurban itu, karena tidak ada lagi tamu yang membutuhkannya”.Dari kasus tersebut terlihat, adanya larangan menyimpan daging kurban diharapkan tujuan syariat dapat dicapai, yakni melapangkan kaum miskin yang datang dari dusun-dusun di pinggiran Madinah. Setelah alasan pelarangan tersebut tidak ada lagi, maka larangan itu pun dihapuskan oleh Nabi SAW.Dari ketetapan tersebut terlihat bahwa sejak masa Nabi Muhammad, Maqasid Al Syariah telah menjadi pertimbangan sebagai landasan dalam menetapkan hukum. Upaya seperti itu, seterusnya dilakukan pula oleh para sahabat. Upaya demikian terlihat jelas dalam beberapa ketetapan hukum yang dilakukan oleh Umar Ibn al Khattab. Kajian Maqasid Al Syariah ini kemudian mendapat tempat dalam kajian ushul fiqh. Baca lebih lanjut

IMPERIALISME DUNIA BARAT KE DUNIA ISLAM

Kemunduran Tiga Kerajaan Besar Islam (1700-1800 M)
Awal kemunduran dunia Islam terjadi saat jatuhnya kota Baghdad (pusat kebudayaan, peradaban, dan ilmu pengetahuan) pada tahun 1258M oleh Bangsa Mongol, yang mengakhiri kekhalifahan Bani Abbasiyah. Wilayah kekuasaan Abbasiyah terpecah menjadi Negara-negara kecil yang independent. Akibatnya kekuatan umat Islam mengalami kemerosotan. Setelah tuntuhnya Bani Abbasiyah, wilayah Islam terbagi menjadi tiga kerajaan besar, yaitu: pertama, Kerajaan Turki Usmani (Afrika Utara, Jazirah Ara, Asia Barat, dan Eropa Timur); kedua, Kerajaan Safawi (Persia); dan ketiga, Kerajaan Mughal (India).Namun ketika tiga kerajaan besar Islam sedang mengalami kemunduran di abad ke-18M, Eropa Barat mengalami kemajuan pesat. Kerajaan Safawi hancur di abad ke-18M, Kerajaan Mughal hancur pada awal paro kedua abad ke-19M di tangan Inggris yang kemudian mengambil alih kekuasaan di ank benua India. Kemunduran kerajaan Usmani juga pada masa selanjutnya, di periode modern menyebabkan kekuatan-keuatn Eropa tanpa segan-segan menjajah dan menduduki daerah-daerah muslim yang dulunya berada di bawah kekuasaan Kerajaan usmani, terutama di Timur Tengah dan Afrika Utara. (Badri Yatim, 2004: 174) Baca lebih lanjut

TA’LIM AL-MUTA’ALLIM DALAM BAYANGAN MODERNISASI PENDIDIKAN

A. Pendahuluan

”Budaya kitab kuning yang menguasai pesantren, ternyata bisa diterapkan ditengah-tengah kehidupan masyarakat modern ini”. Demikian dikatakan oleh Prof. Dr. KH. Tolchah Hasan, MA. Dia mengatakan bahwa bukan sekarang saja kontekstualisasi terjadi akan tetapi sejak belum ada kitab kuning sampai kitab kunig mulai ada, usaha menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat telah terjadi. Perkembangan kitab kuning sampai sekarang lebih dikarenakan beberapa faktor; pertama, munculnya masyarakat muslim kosmopolitan yang membutuhkan pelayanan mulai akhir abad 1 H. Kedua, lahirnya ilmu-ilmu naqliyah & aqliyah secara spektakuler di dunia Islam. Ketiga, tersedianya fasilitas penulisan, terutama kertas. Keempat, banyaknya ulama dan cendekiawan Islam yang kompeten suka menulis dan membaca. Dan kelima sikap para penguasa yang cinta ilmu dan budaya.Kemudian, mengapa kontekstualisasi kandungan kitab kuning menjadi penting? Pertama, adanya perubahan sistem sosial budaya. Kalau hal ini tidak diperhatikan maka masyarakat tidak akan lagi tertarik dengan pesantren. Kedua, terjadinya realitas kepentingan umat. Ketiga, adanya temuan baru dalam iptek. Dulu ulama berijma’ bahwa bumi ini tidak bergerak kecuali bila ada faktor lain. Kalau pemahaman ini tidak dikontekstualisasikan, maka kitab kuning tidak aka menarik untuk dipelajari. Keempat, adanya tantanga baru yang dihadapi umat. Maka, perlu ada kesepakatan baru para ulama tentang kedua hal terakhir tsb.[1] Baca lebih lanjut

IMPLEMENTASI TEORI ADVOCACY DALAM UJIAN NASIONAL DI MADRASAH

BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dirumuskan bahwa fungsi dan tujuan pendidikan adalah berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab (bab II pasal 3).Mengenai isu yang mengatakan bahwa Ujian Nasional (UN) tidak akan dilaksanakan lagi pada tahun 2011 ternyata merupakan angin lalu. Nyatanya UN tetap dilaksanakan di tahun 2011. Oleh karena itu, kemungkinan besar UN akan tetap dilaksanakan di tahun 2012 ini.Ujian Nasional merupakan sesuatu yang tidak asing lagi di dalam dunia pendidikan. Ujian Nasional merupakan tahap akhir evaluasi belajar siswa dalam menyerap ilmu yantg diterimanya di sekolah. Ujian Nasional merupakan kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan dan pelaksanaannya dilaksanakan oleh lembaga-lembaga seperti SD/MI, SMP/MTs. dan SMA/MA/SMK dengan tujuan agar siswa mengetahui kemampuannya serta mengukur kemampuannya dalam menyerap ilmu yang diterimanya di sekolah yang bersangkutan.

Bagaimana sebenarnya pandangan dan harapan masyarakat terhadap penyelenggaraan Ujian Nasional di madrasah. Studi ini penting dilakukan karena masyarakat sebagai pengguna pendidikan di madrasah yang hidup di era lobal ini, diasumsikan memiliki pandangan dan harapan yang mungkin sama atau tiak sama dengan pandangan dan harapan pembuat kebijakan pendidikan, khususnya terkait dengan penyelenggaraan Ujian Nasional di madarasah yang dipersepsi masyarakat saat ini.[1]

Dalam hal ini pemakalah berusaha memberikan penjelasan tentang bagaimana mengimplementasikan teori advocacy dalam ujian nasional. Baca lebih lanjut